JAKARTA - Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia Provinsi Banten menggelar Musyawarah Provinsi keempat sebagai ruang konsolidasi gagasan.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam bidang perencanaan kawasan. Fokus pembahasan diarahkan pada peran infrastruktur hijau dalam mendorong daya saing daerah.
Musyawarah tersebut diselenggarakan di kawasan Indonesia Design District PIK 2. Lokasi ini dipilih karena dinilai merepresentasikan praktik pengembangan kawasan yang terintegrasi. Para peserta berasal dari kalangan praktisi, akademisi, hingga pemangku kebijakan.
Tema infrastruktur hijau strategis menjadi benang merah diskusi. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara estetika, fungsi, dan keberlanjutan. Infrastruktur hijau dipandang sebagai fondasi penting pembangunan kawasan modern.
Kawasan Tangguh dan Lestari Jadi Fokus Utama
Pembahasan dalam musyawarah menyoroti pentingnya kawasan yang tidak hanya menarik secara visual. Ketangguhan lingkungan dan keterhubungan fungsi menjadi perhatian utama. Konsep ini dinilai relevan dengan tantangan pembangunan jangka panjang.
Infrastruktur hijau diposisikan sebagai elemen kunci perencanaan kawasan. Elemen lanskap dirancang untuk mendukung ekologi sekaligus aktivitas manusia. Pendekatan ini menciptakan ruang hidup yang lebih sehat dan adaptif.
Kawasan yang terencana dengan baik juga dinilai lebih siap menghadapi perubahan iklim. Sistem lanskap berperan dalam pengelolaan air, udara, dan ruang terbuka. Hal ini memperkuat daya tahan kawasan terhadap tekanan lingkungan.
Manajemen Lanskap Jadi Penentu Kualitas Kawasan
Ketua Umum Pengurus Nasional IALI, Rahman Andra Wijaya, menekankan pentingnya manajemen lanskap. Ia menyebut pengembangan kawasan masa kini tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan yang berkelanjutan. Lanskap harus dirancang sejak tahap awal hingga operasional.
Rahman mencontohkan kawasan PIK 2 sebagai praktik integrasi lanskap yang konsisten. “PIK 2 ini salah satu percontohan yang concern terhadap landscape, mulai dari tahap perencanaan hingga manajemen operasionalnya,” ujarnya. Pendekatan ini dinilai memberikan nilai tambah jangka panjang.
Dalam rangkaian musyawarah, peserta melakukan tinjauan lapangan. Kegiatan tersebut bertujuan melihat langsung penerapan infrastruktur hijau. Pengalaman lapangan menjadi referensi nyata bagi pengembangan kawasan lain.
Kolaborasi Pengelolaan Infrastruktur Hijau
Kawasan PIK 2 diketahui dikelola melalui pendekatan kolaboratif. Pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan antara PIK Tourism Board dan divisi Landscape Management Agung Sedayu Group. Kolaborasi ini memastikan kesinambungan perencanaan dan pemeliharaan kawasan.
Sinergi antar pemangku kepentingan dinilai krusial dalam menjaga kualitas lanskap. Infrastruktur hijau tidak cukup hanya dibangun, tetapi juga dirawat secara konsisten. Model ini memperlihatkan pentingnya tata kelola yang jelas.
Kolaborasi tersebut juga menciptakan standar pengelolaan kawasan. Setiap elemen lanskap memiliki fungsi ekologis dan sosial. Pendekatan ini memperkuat identitas kawasan secara menyeluruh.
Konsep Orisinal Tingkatkan Nilai Ekonomi Kawasan
Anggota IALI Provinsi Banten, Ahmad Suryadi Hamzah, menilai kawasan PIK 2 memiliki karakter kuat. Ia menyebut banyak kawasan lain cenderung meniru konsep yang sudah ada. Namun pendekatan di kawasan ini dinilai berbeda.
“Kebanyakan orang melihat konsep kawasan itu copy-paste, tapi PIK 2 punya konsep tersendiri dalam perencanaan kawasannya,” tutur Ahmad. Keunikan konsep menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan. Identitas ini membedakan PIK 2 dari kawasan lain.
Penerapan infrastruktur hijau yang terencana memberikan nilai tambah ekonomi. Kawasan berkelanjutan cenderung memiliki nilai properti yang lebih stabil. Daya tarik investasi juga meningkat di mata pelaku usaha global.
Pendekatan berkelanjutan turut meningkatkan kualitas hidup penghuni. Ruang terbuka hijau memberikan manfaat sosial dan lingkungan. Kombinasi ini menjadikan infrastruktur hijau sebagai aset strategis pembangunan kawasan.