ESDM

ESDM Dorong Integrasi Listrik Industri ke Sistem Nasional

ESDM Dorong Integrasi Listrik Industri ke Sistem Nasional
ESDM Dorong Integrasi Listrik Industri ke Sistem Nasional

JAKARTA - Transformasi pasokan listrik industri kini diarahkan pada penguatan keterhubungan dengan sistem nasional yang lebih terintegrasi. 

Perubahan ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan energi untuk mendukung pengembangan industri pengolahan dan hilirisasi. Pendekatan baru tersebut diharapkan mendorong efisiensi, keandalan, serta kesinambungan pasokan energi bagi sektor produktif.

Perubahan Pola Pasokan Listrik Industri

Pemerintah mulai mendorong perubahan arah pasokan listrik di sektor industri dari penggunaan pembangkit mandiri menuju sistem kelistrikan nasional yang terhubung. Pergeseran ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan energi untuk menunjang aktivitas hilirisasi yang semakin luas. 

Pendekatan terintegrasi dipandang mampu memperkuat keandalan pasokan sekaligus menyederhanakan perencanaan sistem energi nasional.

Koordinator Ketenagalistrikan Hilirisasi dan Kawasan Ekonomi Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Fadolly Ardin, menegaskan bahwa transisi ini tidak dapat dilakukan secara instan. 

“Transisi dari captive power menuju sistem on-grid merupakan proses bertahap yang memerlukan kepastian perencanaan sistem, keandalan pasokan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” kata Fadolly. Penegasan ini menunjukkan bahwa integrasi sistem memerlukan kesiapan teknis dan koordinasi lintas pihak.

Perubahan pola pasokan juga dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Integrasi sistem memungkinkan optimalisasi pemanfaatan pembangkit yang tersebar. Dengan demikian, sektor industri dapat memperoleh pasokan yang lebih stabil seiring meningkatnya kebutuhan energi.

Komposisi Kapasitas Pembangkit Nasional

Catatan Kementerian ESDM menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional telah mencapai 107 gigawatt. Kapasitas tersebut berasal dari PT PLN (Persero), pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri, serta private power utility. Gambaran ini mencerminkan struktur pasokan yang melibatkan berbagai pihak dalam sistem kelistrikan nasional.

Komposisi pembangkit masih didominasi oleh tenaga air sebesar 7,1 persen, biomassa 3,0 persen, panas bumi 2,6 persen, tenaga surya 1,3 persen, tenaga bayu 0,1 persen, dan EBT lainnya sekitar 0,3 persen. 

Porsi ini menunjukkan kontribusi energi terbarukan yang terus berkembang meskipun belum mendominasi keseluruhan bauran. Diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting untuk menekan ketergantungan pada sumber fosil.

Struktur pembangkit yang beragam memberi peluang peningkatan pemanfaatan energi bersih secara bertahap. Integrasi sistem nasional memungkinkan optimalisasi pembangkit terbarukan yang sifatnya variabel. Dengan perencanaan yang matang, bauran energi dapat disesuaikan dengan kebutuhan beban secara lebih efisien.

Peran Pembangkit Fosil dalam Sistem

Dalam struktur sistem saat ini, pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara masih menjadi penopang beban dasar. Pembangkit jenis ini beroperasi sepanjang waktu untuk menjaga kestabilan pasokan. Perannya masih signifikan dalam menopang kebutuhan listrik nasional.

Sementara itu, pembangkit berbahan bakar gas menopang kebutuhan listrik di kota besar. Karakteristik gas yang fleksibel memungkinkan penyesuaian cepat terhadap perubahan beban. Kemampuan ini menjadikannya elemen penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Kombinasi peran pembangkit fosil dan terbarukan menjadi penopang transisi energi. Selama masa peralihan, pembangkit fosil masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas sistem. Namun, arah kebijakan menunjukkan upaya bertahap untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Proyeksi Kebutuhan dan Target Kapasitas

Seiring pertumbuhan industri, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan terus meningkat. Kapasitas pembangkit ditargetkan mencapai 443 gigawatt pada 2060. Proyeksi ini menuntut perencanaan infrastruktur yang matang agar pasokan tetap andal.

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 41,6 persen direncanakan berasal dari variable renewable energy yang dilengkapi penyimpanan energi sebesar 34 gigawatt. Sisanya, sebesar 58,4 persen, akan dipenuhi oleh stable renewable energy serta pembangkit fosil yang dilengkapi teknologi carbon capture storage. 

Skema ini mencerminkan kombinasi antara pengembangan energi bersih dan pemanfaatan teknologi pengendalian emisi.

Tambahan kebutuhan listrik sebelum 2032 direncanakan dipenuhi oleh variable renewable energy dan pembangkit listrik tenaga gas. Langkah ini dilakukan sebelum sistem kelistrikan terintegrasi berkembang lebih luas. Perencanaan bertahap diharapkan menjaga keseimbangan antara keandalan pasokan dan target transisi energi.

Arah Pemanfaatan Energi Baru

Pemerintah menyiapkan pemanfaatan energi baru sebagai bagian dari transformasi sistem kelistrikan. Penggunaan nuklir direncanakan mulai 2032 atau berpotensi dipercepat pada 2029. Opsi ini dipertimbangkan untuk memperkuat pasokan baseload rendah emisi.

Selain itu, direncanakan penggunaan 100 persen green ammonia pada pembangkit listrik tenaga uap pada 2045. Pemanfaatan 100 persen green hydrogen pada pembangkit listrik tenaga gas ditargetkan pada 2051. Langkah ini diarahkan untuk menekan emisi sekaligus memanfaatkan teknologi energi bersih generasi baru.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan arah jangka panjang menuju sistem kelistrikan rendah karbon. Integrasi pasokan industri dengan sistem nasional menjadi fondasi penting bagi transformasi ini. Dengan strategi bertahap, perubahan struktur energi diharapkan berlangsung stabil dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index