ISSP Gandeng Grup Djarum, Bangun PLTS Hybrid Terbesar Jawa Sektor Manufaktur

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:37:16 WIB
ISSP Gandeng Grup Djarum, Bangun PLTS Hybrid Terbesar Jawa Sektor Manufaktur

JAKARTA - Upaya industri manufaktur dalam menekan biaya energi sekaligus menurunkan jejak karbon kini memasuki babak baru.

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) atau Spindo mengambil langkah strategis dengan menggandeng entitas Djarum Grup, iForte Energi Nusantara, untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap hybrid terbesar di Pulau Jawa. Proyek ini menandai komitmen serius perusahaan dalam mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam aktivitas produksi berskala besar.

Kerja sama tersebut tidak hanya ditujukan untuk efisiensi operasional, tetapi juga menjadi bagian dari agenda jangka panjang perusahaan dalam mendukung transisi menuju industri hijau. Dengan pemanfaatan energi surya, ISSP berharap mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian global.

PLTS Hybrid Terbesar untuk Sektor Manufaktur

Dalam kolaborasi ini, ISSP bersama iForte Energi Nusantara akan membangun instalasi PLTS atap di dua fasilitas produksi utama Spindo. Wakil Direktur Utama ISSP, Tedja Sukmana Hudianto, menjelaskan bahwa proyek tersebut mencakup Spindo Plant 5 dan Spindo Plant 7.

Plant 5 akan dilengkapi PLTS atap dengan kapasitas 904 kWp. Sementara itu, Plant 7 mengusung sistem PLTS hybrid dengan kapasitas jauh lebih besar, yakni 5,4 MWp. Keistimewaan proyek di Plant 7 terletak pada penggunaan battery energy storage system (BESS) berkapasitas 1 MWh yang berfungsi menjaga stabilitas pasokan energi listrik.

“Secara kumulatif, kedua fasilitas baru tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 9.431,31 MWh/tahun,” kata Tedja.

Kapasitas tersebut menjadikan proyek ini sebagai instalasi PLTS atap hybrid terbesar di Pulau Jawa untuk sektor manufaktur, sekaligus menjadi contoh penerapan energi terbarukan dalam skala industri besar.

Efisiensi Energi dan Penurunan Emisi Karbon

Selain menghasilkan listrik dalam jumlah signifikan, proyek PLTS ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Tedja menyebutkan bahwa pemanfaatan energi surya di dua fasilitas tersebut diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 8.488 ton CO₂ per tahun.

Angka tersebut setara dengan penanaman sekitar 188.626 pohon, sebuah kontribusi nyata dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Menurut Tedja, integrasi energi surya ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan operasional secara berkelanjutan.

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan daya saing industri melalui energi yang lebih hemat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan menekan emisi dan biaya energi secara bersamaan, ISSP berharap dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab lingkungan.

Skema Solar OPEX Tanpa Investasi Awal

Dalam proyek ini, iForte Energi Nusantara menerapkan pendekatan Solar OPEX Model. Skema ini memungkinkan ISSP memanfaatkan energi surya tanpa perlu mengeluarkan investasi awal atau zero capex. Seluruh pembiayaan, pengelolaan, serta pemeliharaan sistem dilakukan oleh penyedia layanan.

Model ini memberikan keuntungan langsung bagi ISSP karena efisiensi biaya operasional dapat dirasakan sejak awal tanpa membebani neraca keuangan perusahaan. Bagi industri manufaktur yang memiliki kebutuhan energi tinggi, pendekatan tersebut dinilai sangat relevan dan berisiko rendah.

Presiden Direktur dan CEO iForte Energi, Mohamad Iwan, menyampaikan bahwa perusahaannya berkomitmen menyediakan solusi energi berkelanjutan dengan tingkat risiko minimal dan jaminan kinerja tinggi.

Ia menambahkan bahwa iForte Energi didukung oleh infrastruktur entitas Djarum Grup lainnya, seperti Protelindo dan iForte sebagai induk usaha. Dukungan ekosistem ini memungkinkan pengelolaan proyek energi terbarukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

PLTS Eksisting Perkuat Komitmen Hijau ISSP

Selain membangun fasilitas baru di Plant 5 dan Plant 7, ISSP dan iForte Energi juga meresmikan pengoperasian PLTS yang telah terpasang sebelumnya di Spindo Plant 1, 2, dan 3. Total kapasitas dari instalasi eksisting tersebut mencapai 2,1 MWp per tahun.

PLTS yang telah beroperasi ini disebut telah memberikan kontribusi signifikan dalam pengurangan emisi karbon, yakni sekitar 2.806 ton CO₂ setiap tahunnya. Keberhasilan instalasi awal tersebut menjadi fondasi kuat bagi ISSP untuk memperluas pemanfaatan energi surya ke fasilitas produksi lainnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa transisi energi di sektor manufaktur bukan sekadar rencana jangka panjang, melainkan telah diwujudkan secara bertahap dan terukur.

Dorong Daya Saing Industri Berkelanjutan

Kolaborasi ISSP dengan iForte Energi Nusantara mencerminkan tren baru di dunia industri, di mana efisiensi energi dan keberlanjutan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing. Dengan memanfaatkan PLTS hybrid, ISSP tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi konvensional, tetapi juga memperkuat citra sebagai perusahaan yang adaptif terhadap tantangan lingkungan.

Proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pelaku industri lain untuk mulai beralih ke energi terbarukan dengan skema yang fleksibel dan ekonomis. Melalui sinergi antara sektor manufaktur dan penyedia solusi energi, transisi menuju industri hijau dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Ke depan, langkah ISSP ini berpotensi mendorong adopsi PLTS hybrid secara lebih luas di sektor industri nasional, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon Indonesia.

Terkini

KAI Daop 9 Jember Tegaskan Kepemilikan Aset Sah

Kamis, 19 Februari 2026 | 14:37:15 WIB

KAI Services Hadirkan Nuansa Imlek di Kereta Api

Kamis, 19 Februari 2026 | 14:37:15 WIB

BUMN Digital Didorong Lindungi Pekerja Ekonomi Digital

Kamis, 19 Februari 2026 | 14:37:14 WIB

BUMN Dahana Hadirkan Program Mudik Gratis Lebaran 2026

Kamis, 19 Februari 2026 | 14:37:14 WIB